LABUHANBATU – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon di Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, semakin meresahkan masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas bersubsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain untuk mencari gas elpiji 3 kilogram. Tidak sedikit yang harus mengantre berjam-jam, namun tetap pulang tanpa membawa tabung gas karena stok telah habis.
Kalaupun tersedia, harga jual di sejumlah titik dilaporkan jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Kelangkaan gas melon tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga memukul para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menggantungkan aktivitas usahanya pada bahan bakar tersebut.
Pedagang makanan keliling, warung makan, penjual gorengan, hingga usaha rumahan lainnya mengaku kesulitan menjalankan kegiatan produksi akibat tidak tersedianya pasokan gas.
Sebagian bahkan terpaksa menghentikan aktivitas usaha untuk sementara waktu karena tidak memiliki alternatif bahan bakar lain yang terjangkau.
Kondisi ini secara langsung berdampak pada menurunnya pendapatan masyarakat kecil yang selama ini mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, gas elpiji 3 kilogram merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Kelangkaan yang berkepanjangan membuat banyak keluarga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan gas atau mencari alternatif lain yang justru lebih mahal.















