Sementara itu, Wilson Lalengke yang merupakan Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 mengatakan bahwa publikasi kegiatan sangat membantu inseminasi informasi dan merubah opini publik tentang Lapas dan Rutan. Lapas dan Rutan bukan lagi tempat yang menyeramkan akan tetapi tempat yang menyenangkan, sebagai sekolah kehidupan untuk melatih warga binaan dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.
“Lapas dan Rutan adalah tempat yang sangat menyenangkan, tempat yang bisa digunakan semua orang sebagai ‘Sekolah Kehidupan’. Di sinilah kita berlatih menghadapi persoalan-persoalan hidup yang mungkin berbeda sekali keadaannya ketika kita berada di luar sana,” tutur Wilson Lalengke.
Lulusan pasca sarjana bidang studi Applied Ethics dari Utrecht University, The Netherlands, dan Linkoping University, Sweden, ini berharap pertemuan silahturahmi dengan pihak Lapas Narkotika Cipinang bermanfaat bagi semua pihak.
“Apa yang telah menjadi bagian dari diskusi-diskusi kecil kita di pertemuan silahturahmi ini kiranya dapat memberikan manfaat, baik untuk warga binaan maupun bagi pembangunan bangsa dan negara, termasuk juga masyarakat umum di luar sana,” jelas Wilson Lalengke.
Selain membicarakan perihal kolaborasi antara PPWI sebagai media dengan Lapas Cipinang dalam program kegiatannya, Ketum PPWI, Wilson Lalengke juga secara sekilas membahas perihal organisasi Persaudaraan Mantan Tahanan (PERMATA) yang sedang dalam proses penyiapan legalitas struktur kepengurusannya. Hal tersebut disambut baik M. Khapi dan Heri Purnomo.
“Adanya organisasi semacam Permata ini akan sangat banyak membantu kami para ngelola Lapas dan Rutan dalam membina dan mempersiapkan warga binaan kami menghadapi kehidupan barunya seusai menjalani proses pembinaan di sini,” ujar Khapi.













