Namun kata dia menurut laporan dari The Climate Institute pada tahun 2016 memprediksi, kalau produksi kopi dunia bisa terpangkas setengahnya pada tahun 2050. Penyebabnya; pemanasan global dan perubahan iklim.
“Bahkan dalam Science Advances dan Global Change Biology menyebutkan, 75 spesies kopi liar di dunia atau setara dengan 60 persen di antaranya terancam punah,” sebut Dika.
Wina Rezky Agustina, dihubungi terpisah, membenarkan dirinya bakal tampil dengan tari kontemporer berjudul Liberika dalam acara CBCC tersebut.
“Kita terlibat dan mau melibatkan diri karena kita memang tak boleh abai dengan lingkungan dan masa depan bumi termasuk kopi ini. Kita sengaja berusaha memantik kesadaran publik bahwa iklim dunia kini tidak sedang baik-baik saja,” sebut Wina.
Perubahan iklim itu kata Wina selain sebagai cara alam menyeimbangkan diri tapi juga bisa disebabkan oleh ulah kecerobohan kita sebagai manusia. Setiap kerakusan kata dia selalu membawa petaka bagi masa kini dan masa depan.
“Melalui seni kan kita bisa berimajinasi dan mengkritik diri dan siapa saja untuk membuka mata tanpa harus menyinggung dan memarahi,” sambungnya.
(Red)















