SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
HOMEKampusKomunitasKota Kupang

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

23
×

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

Sebarkan artikel ini

Nusa Tenggara Timur– Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Nusa Tenggara Timur (FOKMAP-NTT) merayakan Dies Natalis ke-IX di Lasiana, Kota Kupang, pada Senin (25/5/2026).

Kegiatan ini mengusung tema “Membawa Kita Bertumbuh Bersama, Melestarikan Identitas Budaya, dan Memperkuat Peran Pelajar Generasi Papua yang Unggul di Era Digital”. Acara tersebut dihadiri tokoh agama, para senior, anggota aktif, serta tamu undangan dari berbagai organisasi kemahasiswaan di NTT.

Kegiatan dibuka dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Pdt. Jeheskia Ngadirun, S.Th. Suasana berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan sebagai bentuk refleksi perjalanan organisasi selama sembilan tahun dalam mempererat solidaritas mahasiswa Papua di tanah rantau.

Dalam renungannya, Pdt. Jeheskia Ngadirun menyampaikan pentingnya budaya gotong royong dan saling melayani. Ia mengingat pengalamannya menghadiri kegiatan serupa di Jayapura pada tahun 1999, di mana nilai kebersamaan sangat terasa.

“Budaya seperti bakar batu tidak bisa dilakukan sendirian; harus ada gotong royong, ada yang memotong, ada yang menyiapkan, dan lain-lain. Ini adalah budaya kebersamaan yang perlu dilestarikan. Rasa kebersamaan inilah yang menjadi berkat bagi kita,” ujar Pdt. Jeheskia.

Ia juga menyinggung tema era digital yang menurutnya harus dimanfaatkan dengan baik oleh generasi muda Papua untuk memperkuat organisasi, bukan menjadi penyebab perpecahan.

“Tuhan memerintahkan kita untuk saling melayani sesuai dengan karunia masing-masing. Jangan mengambil fungsi atau posisi orang lain, tetapi biarkan setiap orang berjalan sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Jika kita melakukan ini dengan kerendahan hati, maka kerukunan akan tercipta dan berkat Tuhan akan terus mengalir,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *