PEMALANG – Suasana sepi kini menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat di dalam armada angkutan kota (angkot) berwarna biru jurusan Sirandu–Petarukan. Kendaraan yang dahulu dipenuhi penumpang itu kini lebih sering melaju dengan kursi-kursi kosong.
Kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Grab Mobil dinilai semakin menggerus mata pencaharian para sopir angkot. Kemudahan pemesanan, layanan antar jemput langsung ke lokasi, serta kenyamanan yang ditawarkan membuat masyarakat beralih dari transportasi konvensional ke transportasi online.
Salah seorang sopir angkot trayek Sirandu–Petarukan, Parihin (55), mengaku kondisi yang dialaminya saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu sebelum transportasi online berkembang pesat di Kabupaten Pemalang.
Menurutnya, dahulu ia bisa membawa pulang keuntungan bersih hingga Rp100 ribu per hari, bahkan lebih. Namun kini, untuk mendapatkan Rp50 ribu saja ia harus bekerja sejak subuh hingga sore hari.
“Sekarang penumpang sudah jarang mau naik angkot. Mereka lebih memilih pesan mobil online lewat aplikasi karena bisa dijemput tepat di depan rumah dan langsung diantar ke tujuan,” ujar Parihin saat ditemui di kawasan bekas Terminal Bus Sirandu, Senin (15/6/2026).
Ia menambahkan, meskipun tarif angkot relatif lebih murah dibandingkan layanan transportasi online, faktor kenyamanan dan kemudahan akses membuat masyarakat lebih memilih menggunakan Grab Mobil.
Sopir Angkot Merasa Terpinggirkan
Parihin mengaku para sopir angkot saat ini merasa semakin terdesak karena kendaraan online dapat mengambil penumpang di berbagai lokasi, termasuk di jalur-jalur utama yang selama ini menjadi wilayah operasi angkutan kota.















