PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
HOMEKampusNahdlatul UlamaOpini Pembaca

Antropolog UNUSIA Soroti Legitimasi Pengetahuan di Luar Kampus dan Pentingnya Ruang Refleksi

270
×

Antropolog UNUSIA Soroti Legitimasi Pengetahuan di Luar Kampus dan Pentingnya Ruang Refleksi

Sebarkan artikel ini
Peserta bersama Antropolog Pengetahuan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Moh. Faiz Maulana, narasumber dalam Peringatan Satu Tahun Sekolah Pendidikan Kritis (SPK) Jakarta di Kopi Teungku Seulawah, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2026). (Dok. SPK Jakarta)

“SPK harus menjadi ruang Candradimuka. Jangan hanya menjadikan SPK sebagai tempat berkegiatan. Jangan langsung berbicara tentang teori-teori besar, sementara lingkungan sekitar Anda sendiri tidak pernah Anda lihat,” ujarnya.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Dalam kesempatan itu, Faiz turut memaparkan hasil penelitian multisitus yang dilakukannya di Jakarta, Depok, dan Bogor pada 2022–2023 mengenai pengalaman perempuan menggunakan transportasi publik, khususnya saat memasuki gerbong khusus perempuan.

Menurutnya, berbagai kebijakan layanan publik cenderung menempatkan tubuh perempuan sebagai fokus utama perhatian.

“Saya ingin melihat bagaimana layanan-layanan dan berbagai tempelan informasi selalu menggarisbawahi perempuan dibandingkan laki-laki. Asumsi saya adalah bahwa kebijakan apa pun yang dibuat selalu menempatkan tubuh perempuan sebagai perhatian utama. Tubuh perempuan menjadi urutan pertama, sementara tidak pernah ada urutan kedua,” jelasnya.

Selain itu, Faiz menyoroti anggapan yang menempatkan ilmu teknik dan sains lebih bergengsi dibandingkan ilmu sosial dan humaniora. Ia menilai pandangan tersebut tidak bebas nilai karena selalu dipengaruhi kepentingan tertentu dalam proses produksi pengetahuan.

“Bahwa orang-orang science yang bekerja di laboratorium akan lebih mudah dikendalikan dibandingkan orang-orang yang memiliki pikiran kritis. Maka social science seolah-olah harus dibuat agar tidak banyak peminatnya. Kenapa filsafat tidak banyak peminatnya? Ya, karena kalau banyak peminatnya, pemerintah akan terus dikritisi,” katanya.

Faiz juga menyinggung sejumlah kebijakan pendidikan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo, seperti pembentukan Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Universitas Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi melahirkan penyeragaman perspektif dan cara berpikir melalui institusi pendidikan.

“Perspektifnya disamakan, cara berpikirnya didoktrin, harus begini, begini, dan begini. Itu semua merupakan bagian dari power knowledge,” pungkasnya.

Pendaftaran Jurnalis – MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Di mana Gajah Harus Pulang
Aceh

Gajah tidak mengenal batas administrasi yang dibuat di…