PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
AcehOpini PembacaPeristiwa

Di Mana Gajah Harus Pulang?

76
×

Di Mana Gajah Harus Pulang?

Sebarkan artikel ini
Di mana Gajah Harus Pulang
Gambal Ilustrasi: Di mana Gajah Harus Pulang
📝 Keterangan Redaksi

Artikel ini merupakan kiriman dari kontributor atau pembaca. Isi tulisan, data, opini, serta keakuratan informasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan berada di luar tanggung jawab Redaksi Metro Media News.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Ingin Menjadi Kontributor / Kirim Artikel?

Oleh: Syarifudin Brutu | Banda Aceh

Banda Aceh, 5 September 2026 – Setiap kali seekor gajah masuk ke kebun warga, kita hampir selalu menyebutnya sebagai konflik manusia dan satwa. Kalimat itu terdengar sederhana. Seolah-olah ada dua pihak yang datang ke satu ruang, lalu bertabrakan.

Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

Ada sejarah panjang di belakangnya. Hutan yang berubah, ruang hidup yang terpotong, perkebunan yang meluas, jalan yang membelah bentang alam, sampai tata ruang yang sering kali lebih mudah membaca kepentingan manusia daripada membaca pergerakan satwa.

Pada 21 Februari 2026, seorang petani bernama Mussahar, 53 tahun, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah di kebunnya di Kampung Pantanlah, Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. Ia sempat berusaha mengusir seekor gajah dengan alat seadanya sebelum akhirnya diserang kawanan tersebut.

Kematian itu seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang seorang petani yang naas. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa konflik gajah dan manusia bukan persoalan yang selesai hanya dengan imbauan agar masyarakat berhati-hati.

Skalanya pun tidak kecil.

Data BKSDA Aceh yang dikutip Mongabay mencatat 761 konflik manusia-gajah terjadi di Aceh sepanjang 2019–2024. Angkanya bahkan mencapai 149 kasus pada 2023 dan 114 kasus pada 2024.

Kalau angka setinggi itu terus berulang dari tahun ke tahun, kita tidak lagi sedang berhadapan dengan kejadian kebetulan. Ada persoalan yang belum selesai dalam cara kita mengatur ruang hidup manusia dan satwa.

Di sinilah kita perlu berhenti melihat gajah sebagai hewan yang “masuk ke tempat manusia”.

Pendaftaran Jurnalis – MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *