Putusan ini penting. Masyarakat perlu tahu siapa yang menguasai ruang, untuk kegiatan apa ruang tersebut digunakan, dan bagaimana pemanfaatannya beririsan dengan kepentingan lingkungan maupun masyarakat.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Tanpa keterbukaan informasi, masyarakat hanya melihat akibatnya, bukan proses yang melahirkannya.
Mereka melihat gajah datang ke kebun, tetapi tidak melihat keseluruhan peta perubahan ruang di belakang peristiwa tersebut. Mereka melihat tanaman rusak, tetapi belum tentu tahu apakah di sekitar habitat satwa telah terjadi perubahan fungsi lahan, terputusnya koridor, atau pembangunan yang tidak mempertimbangkan jalur pergerakan satwa.
Karena itu, cara kita memandang konflik ini juga perlu diubah.
Jangan setiap kali gajah masuk kebun, yang pertama kali kita pikirkan hanya bagaimana mengusirnya. Kita juga harus bertanya: bagaimana mencegah gajah dan manusia bertemu dalam situasi yang berbahaya sejak awal?
Pagar listrik, sistem peringatan dini, pengamanan kebun, dan penanganan cepat tetap penting untuk melindungi masyarakat. Semua itu dibutuhkan.
Tetapi, itu baru lapisan pertahanan.
Akar persoalannya tetap berada pada tata ruang, perlindungan habitat, kepastian koridor, pengawasan penggunaan lahan, dan keterlibatan masyarakat dalam keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.
Ada satu hal lain yang juga perlu kita lawan: kebiasaan mengingat masalah setelah tragedi terjadi.
Kita tidak boleh menunggu petani meninggal untuk kemudian memperbaiki jalur evakuasi. Kita tidak boleh menunggu gajah mati untuk kemudian membicarakan habitat.
Kebijakan lingkungan tidak semestinya baru bergerak setelah korban berjatuhan.
MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »











