SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
Cianjur

Bisik Sunyi Apun, Kesaksian Perempuan dari Festival Kopi Cianjur

154
×

Bisik Sunyi Apun, Kesaksian Perempuan dari Festival Kopi Cianjur

Sebarkan artikel ini
Foto: Wina Rezky Agustina.

“Dia pun mendapat gelar bekende grooten koffi leverancier (distributor besar kopi yang termasyhur), seperti ditulis Otto van Ress dalam Overzigt van de Geschhiedenis der-Pranger Regentschappen (Sejarah Para Bupati Priangan),” katanya.

Berbeda dengan pandangan para pejabat VOC, sebagian besar rakyat (terutama para petani kopi) justru menyimpan kebencian kepada Aria Wiratanu Datar III. Rupaya sikap keras Aria Wiratanu Datar III terhadap para petani kopi menjadi sebab kebencian itu muncul.

Mengutip Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dalam Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870, Hendi menyebutkan, dalam prakteknya, VOC bekerjasama dengan bangsawan lokal untuk menekan massa di bawah.

Selain itu, dalam menjalankan bisnis kopinya, Aria Wiratanu III dinilai tidak jujur dengan mengambil laba yang terlalu banyak dari para petani. Menurut sejarawan Gunawan Yusuf, harga kopi perpikul yang disepakati adalah 17.50 ringgit. Namun nyatanya, Aria Wiratanu Datar III  hanya membayar 12.50 ringgit perpikul. Uang 5 ringgit yang seharusnya menjadi hak para petani kopi itu dimasukannya ke kantong pribadi.

“Karena soal itulah, rakyat lantas tidak puas, mengutip Gunawan Yusuf dalam Sejarah Cianjur Bagian ke-7,” kata Hendi.

Dan akhirnya disuatu senja ditahun 1726, entah itu seorang penyusup atau siapa berhasil memasuki pendopo kabupaten Cianjur. Condre menjadi saksi kemangkatan trasgis Sang Dalem. Sosok Apun Gencay ada dalam kisah itu, tentu dengan segala versinya.

(Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *