Disebutkan Kang Ace, setiap fungsionaris tidak mungkin bisa menjangkau setiap rumah. Untuk itu kader dituntut mampu membuat narasi positif dan diksi yang tepat di media sosial.
“Memiliki kemampuan menyampaikan diksi itu sangat penting dalam politik. Sebab tidak tepat dalam membuat diksi pada konteks tertentu terkadang bisa berakibat fatal dan merugikan,” paparnya.
Maka dari itu, kata dia, fungsionaris harus cerdas dalam menggunakan media sosial sebagai alat perjuangan untuk pemenangan partai. “Kita harus mampu membangun transformasi sesuai dengan apa yang telah diperjuangkan oleh Ketua Umum Partai Golkar Bapak Airlangga Hartarto dalam membangun bangsa ini,” tutur Kang Ace.
Pada kesempatan itu juga Kang Ace menekankan pentingnya membangun sikap optimisme kepartaian para kader.
“Kita ingin menang. Kalau ingin menang harus memiliki strategi jitu. Semua harus optimis tak boleh terganggu oleh berbagai isue termasuk isue penundaan pemilu. Itu bisa saja strategi pihak lain agar kita terlena,” katanya.
Menurut Kang Ace, putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang memerintahkan pemilu ditunda dinilai banyak ahli hukum sebagai putusan yang keliru. Dimana hakim dianggap sudah membuat putusan ultra petita atau putusan atas perkara yang melebihi kewenangannya.
“Keputusan itu adalah ultra petitum, kita tidak perlu terganggu, terus saja bergerak dan berjuang untuk Pemilu 2024 yang hanya tinggal 332 hari lagi ini,” katanya.
(Red)















