Asumsi awal dari berbagai kalangan pengamat, bahwa terjadinya penurunan daya beli masyarakat selama proses pemulihan ekonomi. Di sisi lain juga ada transformasi bisnis ke dunia online yang lebih efisien bagi konsumen maupun pedagang.
Data makro ekonomi, hingga akhir semester I-2017, inflasi masih cukup terjaga pada level 3%, nilai tukar stabil di kisaran US$ 13.300 dan bahkan neraca perdagangan tercatat surplus sebagai efek peningkatan ekspor barang manufaktur.
Sepertinya tidak ada celah untuk melihat sisi buruk dari perekonomian Indonesia, apalagi di tengah kondisi global yang juga tak baik dan penuh ketidakpastian.
“Tetap tumbuh ekonomi tapi tidak diikuti oleh kegiatan usaha yang harusnya bisa tumbuh lebih cepat, bukan bagian dari perlambatan,” kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih kepada wartawan, Kamis (27/07/17) siang.
Asumsi Lana ini diperkuat oleh data lain dari konsumsi semen nasional. Hingga semester I-2017, realisasinya mencapai sekitar 29 juta ton atau turun 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi semen salah satu indikator kuat pembangunan berjalan baik atau tidak.
Kabar baik bisa diharapkan datang dari properti, sebagai sektor yang seharusnya cemerlang akibat kebijakan agresif pemerintah soal pembangunan. Akan tetapi Rumah.com Property Index mencatat (RPI) volume suplai properti mengalami penurunan signifikan di kuartal II-2017, yakni sebesar 9,6%.
Capaian tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kenaikkan sebesar 11,4%. Sedangkan untuk harga properti residensial secara nasional berapa pada titik 103 pada kuartal II-2017 atau naik tipis 0,39% dibandingkan kuartal I-2017.















