“Jatayu sejatinya adalah simbol keprihatinan kami terhadap salah satu satwa endemik penghuni hutan-hutan Cianjur, yakni Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi),” papar Dika.
Padahal, kata dia, Elang Jawa sering dikenal sebagai perwujudan Burung Garuda dalam dunia nyata. Pemilik kekuasaan udara di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang kini terancam punah.
Wina Resky ‘Jatayu’ Agustina merupakan lulusan Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung 2021 Program Penciptaan dan Pengkajian Seni. Pernah mengikuti International Dance Festival angkatan pertama 2008 Mengikuti Jakarta Berlin Art Festival di Jerman 2013. Selain sebagai koreografer/penari, aktif di beberapa kelompok teater diantaranya Mainteater Bandung, Titimangasa Foundation dan Teater Payung Hitam.
Memiliki pengalaman dalam berbagai garapan tari dan teater diantaranya CO Teater Tari Citraresmi, Koreografer Drama Musikal Gebyar 70th Regina Pacis 2018, Ronggeng Kulawu sebagai Koreografer 2018-2019, Teater Musikal Bulbul 2021 dan kini Founder Lokatmala Foundation.
Aktivitas yang sedang dilakukannya saat ini selain terlibat dalam Pembinaan di Kampung Budaya Jalawastu Brebes bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila – Republik Indonesia (BPIP RI) juga menjadi tim Riset Floating Heritage Festival bersama ISBI Bandung 2021-2024.
Saat tampil memukau di acara helaran itu, Wina berkolaborasi dengan Sanggar Medalsari Karangtengah, Kecamatan Karangtengah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur.
Dihubungi terpisah usai menjadi penari di Helaran Budaya Cianjur, Wina memberikan alasan mengapa ia membawakan Jatayu dalam acara yang dihadiri sejumlah pejabat penting termasuk politisi dan budayawan di lingkungan Pemkab Cianjur itu.















