Selain itu, dalam penggunaannya kita akan menghadapi banyak distraksi yang tidak seharusnya dikonsumsi. Gangguan-gangguan kecil yang terjadi terus-menerus ini membuat tingkat fokus dan ketelitian menjadi terganggu. Apalagi jika kita belajar tanpa mengaktifkan silent mode pada perangkat kita. Distraksi inilah yang akhirnya membuat alur pembelajaran menjadi kurang maksimal.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Selanjutnya, kualitas informasi yang ada di internet juga memiliki kualitas yang berbeda-beda. Mungkin saja informasi yang kita dapatkan kurang lengkap dalam menjelaskan apa yang kita pelajari. Akibatnya, hal tersebut membuat kita kebingungan untuk mencari informasi yang sepenuhnya akurat di internet sehingga kita harus menyaring informasi tersebut dengan cermat jika dibandingkan dengan membaca di buku cetak.
Lalu, konsumsi konten-konten yang instan secara terus-menerus juga dapat membuat attention span kita berkurang. Saat ini, kebanyakan pelajar di Indonesia kurang mampu untuk membaca dan memahami model teks panjang. Dalam uji coba Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia mengalami penurunan skor membaca, dari 371 poin pada tahun 2018 menjadi 359 poin pada tahun 2022. Hal ini dapat menjadi salah satu bahan refleksi mengenai pentingnya kemampuan membaca dan memahami teks panjang di tengah kebiasaan konsumsi informasi yang semakin cepat.
Dengan adanya faktor-faktor penghambat tersebut, dapat dipahami bahwa kemampuan otak dalam belajar dan mengolah informasi bukan hanya ditentukan dari jumlah informasi yang diterima. Pikiran kita perlu memilah hal yang akan dipelajari dan berguna bagi kita sehingga diperlukan solusi efektif untuk mengatasi masalah ini. Ada berbagai cara untuk kita menghindari atau mengurangi hambatan belajar dari internet.
MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »











