“Ruwat bumi, baritan, atau sedekah bumi ini mengangkat tema Mandiri dan Berdikari. Pesan yang akan disampaikan nantinya disesuaikan dengan gaya dalang, namun secara umum mengandung semangat kemandirian masyarakat,” ujar Zainal Imron.
Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan terlaksana berkat dukungan dan partisipasi masyarakat. Dana penyelenggaraan sebagian besar berasal dari swadaya warga yang secara rutin menyisihkan iuran kecil setiap hari.
“Setiap rumah tangga menyisihkan Rp500 setiap malam dan dikumpulkan selama satu tahun. Dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp60 hingga Rp65 juta. Selain itu, ada juga dukungan dari para donatur yang nilainya mencapai sekitar Rp80 juta,” ungkapnya.
Puncak perayaan akan berlangsung pada malam hari melalui pagelaran wayang golek yang menjadi hiburan sekaligus media penyampaian pesan-pesan moral kepada masyarakat. Prosesi ruwatan akan dipimpin oleh seorang dalang ternama dari Tegal yang diharapkan mampu menghadirkan nilai edukatif dan spiritual dalam pertunjukan tersebut.
Kemandirian warga dalam membiayai kegiatan serta tingginya partisipasi masyarakat menjadi contoh nyata kekuatan gotong royong yang masih terjaga di pedesaan. Melalui tradisi Ruwat Desa, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya warisan leluhur, tetapi juga menanamkan nilai syukur, persatuan, dan kebersamaan kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
(Ragil)















