Paradoks dekomodifikasi ini membentuk hierarki baru di pasar tradisional. Dapur MBG mendominasi jaringan grosir berkat kepastian volume dan anggaran publik yang kaku. Di sisi lain, ibu rumah tangga terpaksa memangkas kualitas belanjaan, sementara pelaku usaha mikro terpukul karena margin keuntungan mereka tergerus habis akibat kenaikan bahan baku yang tidak bisa langsung dibebankan kepada konsumen.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Sistem yang belum terintegrasi ini akhirnya memicu kanibalisasi antar-dapur. Pada hari kerja, penyerapan stok secara masif menciptakan “kelangkaan semu” yang memicu lonjakan harga (demand shock). Sebaliknya, ketika Dapur MBG libur operasional, bahan pangan segar yang tidak terserap mendadak membanjiri pasar eceran sehingga memicu oversupply yang membanting harga hingga terjun bebas. Efek “pingpong” harga ini sangat merugikan kepastian usaha tani dan daya beli masyarakat.
Jika pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan program ini, Badan Gizi Nasional wajib membangun rantai pasok independen yang terpisah, yakni langsung menghubungkan Dapur MBG dengan petani dan peternak lokal untuk menjaga pasokan khusus (segregated supply chain). Pemisahan arena ini penting agar polarisasi konsumen dapat terintegrasi dan harga eceran kembali wajar.
Niat mulia dalam membagikan makanan gratis kepada target pengentasan kelaparan dan stunting tidak boleh dibayar mahal dengan merosotnya daya beli masyarakat akibat kelangkaan stok dan inflasi di dapur rumah tangga mereka sendiri.
Referensi:
Fligstein, N. (1996). Markets as Politics: A Political-Cultural Approach to Market Institutions. American Sociological Review, 61(4), 656–673.
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.











