Ia menjelaskan, saluran tersebut memiliki fungsi penting untuk mengairi lahan persawahan masyarakat. Bahkan hingga kini masih terdapat pintu air yang berfungsi sebagai pengatur dan pembagi debit air ke area pertanian.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
“Kalau sekarang tinggal dua saluran air saja karena sebagian sudah ditutup untuk pembangunan jalan,” tambahnya.
Hampir Setiap Rumah Memiliki Jembatan
Thohir (40), salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di depan saluran air, mengaku membangun jembatan sebagai akses utama menuju rumah sekaligus tempat menjalankan usaha kecil miliknya.
“Untuk pembangunannya harus ada izin dari kantor pengairan,” katanya.
Pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan perkotaan menyebabkan kebutuhan lahan permukiman terus meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong pembangunan rumah-rumah baru di sekitar saluran air yang masih tersisa di Kampung Mengoneng.
Akibatnya, hampir setiap rumah memiliki jembatan pribadi yang menghubungkan bangunan dengan jalan lingkungan. Jembatan tersebut dibangun dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari konstruksi kayu hingga beton permanen.
Keberadaan ratusan jembatan kecil yang tersebar di seluruh kawasan kampung menciptakan pemandangan yang unik dan berbeda dari permukiman lainnya.
Jika dilihat dari atas, jembatan-jembatan tersebut tampak berjejer mengikuti alur saluran air yang membelah kawasan permukiman. Kondisi inilah yang membuat Kampung Mengoneng kerap dijuluki sebagai Kampung Seribu Jembatan oleh masyarakat setempat.
Selain menawarkan keunikan tata ruang lingkungan, Mengoneng juga menyimpan nilai sejarah penting sebagai salah satu kawasan yang berkaitan dengan awal perkembangan Kabupaten Pemalang.
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.











