SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
DaerahKab. PemalangLingkunganPertanian

Unik, Kampung Mengoneng di Pemalang Dijuluki Kampung Seribu Jembatan

172
×

Unik, Kampung Mengoneng di Pemalang Dijuluki Kampung Seribu Jembatan

Sebarkan artikel ini
Poto Jembatan di Kampung Mengoneng yang berada di Kelurahan Bojongbata, Pemalang. Poto: Ragil

PEMALANG – Kabupaten Pemalang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah pertanian yang subur di jalur Pantura Jawa Tengah. Karakter tanah yang gembur, minim kandungan bebatuan, serta didukung sistem irigasi yang baik menjadikan wilayah ini sebagai salah satu sentra penghasil beras di kawasan pantai utara Pulau Jawa.

Terutama di wilayah pesisir utara yang dikenal dengan sebutan Puser Jawa, hamparan lahan persawahan masih terbentang luas. Keberadaan jaringan irigasi yang telah dibangun sejak lama menjadi penopang utama produktivitas sektor pertanian masyarakat.

Salah satu kawasan yang memiliki karakter unik adalah Kampung Mengoneng yang berada di Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang. Kampung tua ini dilintasi sejumlah saluran air yang telah ada sejak ratusan tahun silam.

Berdasarkan catatan sejarah lokal, Mengoneng diyakini pernah menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pemalang pada masa lampau. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui tata ruang kampung yang khas, termasuk keberadaan jaringan saluran air yang mengelilingi permukiman warga.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pembangunan rumah tinggal di sepanjang bantaran saluran air, hampir setiap warga yang membangun rumah di tepi saluran membuat jembatan kecil sebagai akses menuju rumah mereka.

Menurut Mang Ipin (65), warga asli Kampung Mengoneng yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di kampung tersebut, pada era 1960-an terdapat empat saluran air besar yang membelah kawasan permukiman.

“Pada waktu itu ada empat saluran air yang membelah kampung. Lebarnya rata-rata antara tiga sampai empat meter,” ujar Mang Ipin, Rabu (3/6).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *