SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
HOME

Cagar Biosfer Cibodas Jadi Pusat Penelitian dan Tertua di Indonesia

630
×

Cagar Biosfer Cibodas Jadi Pusat Penelitian dan Tertua di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Cagar Biosfer Cibodas menjadi salah satu lokasi objek penelitian dan percontohan lokal maupun mancanegara.

MetroMediaNews.co – Direktur Eksekutif Program Man And Biosfer (MAB) Unesco Indonesia Prof Dr Purwanto . DEA membeberkan Cagar Biosfer Cibodas yang berada di wilayah Gunung Gede Pangarango merupakan taman nasional yang pertama diumumkan di Indonesia pada tahun 1977. Kini Cagar Biosfer Cibodas menjadi salah satu lokasi objek penelitian dan percontohan lokal maupun mancanegara.

“Cagar Biosfer Cibodas memiliki keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama, bahkan ada lebih dari 6000 riset penelitian di dalamnya,” paparnya.

Menurutnya, terdapat 16 cagar biosfer yang ada di Indonesia di antaranya adalah Cibodas, Taman komodo, Tanjung Puting dan Rololindo itu pada tahun 1977. Kemudian tahun 1981 ditambah dua yakni Gunung Leuser, Gunung Semeru, dan tahun selanjutnya yakni Wakatobi. Sejak tahun itu cagar biosfer terus berkembang menjadi kawasan konservasi, penelitian dan pendidikan.

“Setelah tahun 1995 berkembang menjadi kawasan yang bukan hanya konservasi saja tetapi menjadi kawasan berkelanjutan, sehingga dibagi tiga zonasi, didalamnya terdapat zona inti, penyangga, dan transisi. Hal ini bertujuan konservasi sumber daya hayati dan budaya, fungsi pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta fungsi logistik support,” sambungnya.

Menurutnya, ketiga-tiganya itu harus saling keterkaitan. Bahkan disetiap kegiatan konservasi pun mesti didukung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mencapai fungsi tersebut, harus diimplementasikan ke kawasan cagar biosfer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *