KUPANG – Mama Theresia tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat berdiri di hadapan jajaran Pemerintah Kabupaten Kupang dalam audiensi yang berlangsung di Kantor Bupati Kupang, Kamis (4/6/2026). Suaranya beberapa kali bergetar ketika menceritakan bagaimana lapak kecil yang selama ini menjadi sumber penghidupannya dibongkar, sementara lokasi relokasi yang dijanjikan pemerintah belum juga tersedia.
“Kalau saya tidak jualan, siapa yang tanggung jawab hidup saya?” ucapnya di hadapan para pejabat daerah.
Kalimat itu seketika membuat suasana ruangan menjadi hening.
Theresia bukan satu-satunya warga yang datang membawa kegelisahan. Sejak pagi, masyarakat Civic Center bersama warga Laos dan sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Persatuan Rakyat Anti Imperialisme (PERISAI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendatangi Kantor Bupati Kupang untuk menagih kepastian relokasi yang sebelumnya dijanjikan pemerintah daerah.
Aliansi tersebut terdiri dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang, AGRA Wilayah NTT, AGRA Ranting Naibonat, IMPE, masyarakat Civic Center, serta masyarakat Laos.
Mereka datang setelah sejumlah lapak usaha masyarakat dibongkar dalam program penataan kawasan. Namun hingga kini warga mengaku belum mengetahui secara pasti lokasi relokasi yang dijanjikan oleh pemerintah.
Harapan masyarakat untuk bertemu langsung dengan Bupati Kupang, Yosef Lede, belum terwujud. Dalam audiensi tersebut, pemerintah daerah diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang bersama sejumlah pejabat terkait.
Bagi warga, ketidakhadiran bupati menambah panjang daftar pertanyaan yang hingga kini belum mendapatkan jawaban pasti.















