Mahasiswa Dorong Diskusi yang Lebih Berimbang
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta bernama Chelsi turut memberikan pandangannya. Ia mengaku pernah tinggal di Papua selama sekitar tujuh tahun dan menyaksikan langsung perkembangan pembangunan di wilayah tersebut.
Menurutnya, film dokumenter seperti Pesta Babi juga perlu menampilkan sisi pembangunan yang telah dirasakan masyarakat agar publik memperoleh gambaran yang lebih utuh.
“Di Papua memang ada banyak persoalan, tetapi ada juga pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, penting untuk melihat persoalan dari berbagai sisi,” katanya.
Chelsi berharap diskusi mengenai Papua maupun proyek pembangunan nasional dapat terus dilakukan secara terbuka dengan menghadirkan beragam perspektif.
Di akhir kegiatan, aktivis FMN Kupang, Tiara Mau, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan mahasiswa dari berbagai kampus, di antaranya Universitas Nusa Cendana (Undana), IAKN Kupang, Universitas Kristen Artha Wacana (Unkris), dan Universitas Muhammadiyah Kupang.
Menurut Tiara, film Pesta Babi berhasil menggambarkan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi sebagian masyarakat Indonesia hingga saat ini.
“Film ini mengajak kita melihat kembali bagaimana pembangunan berdampak pada masyarakat, khususnya kelompok yang berada di wilayah-wilayah terdampak proyek besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat adat di Papua, terutama perempuan adat, yang menurutnya menghadapi berbagai tantangan akibat konflik lahan dan penguasaan wilayah.
Meski mengapresiasi substansi film tersebut, Tiara menilai masih terdapat aspek yang belum dibahas secara mendalam, terutama terkait pengaruh kepentingan global terhadap pelaksanaan proyek-proyek strategis nasional di Indonesia.















