Dan kesimpulan di media sosial sering kali datang lebih cepat daripada klarifikasi.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Visualnya Memang Problematis
Saya tidak ingin mengatakan bahwa publik sekadar salah memahami.
Tidak sesederhana itu.
Jika sebuah pertunjukan menggunakan visual yang secara kuat mengingatkan orang pada citra satanisme atau okultisme, asosiasi tersebut memang dapat muncul. Apalagi pertunjukan itu hadir dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi.
Karena itu, mempertanyakan pilihan visual dalam SKNC merupakan hal yang wajar.
Apakah adegan tersebut memang diperlukan?
Apa maksudnya?
Dari tradisi atau cerita apa visual tersebut diambil?
Mengapa bentuk itu dipilih?
Pertanyaan semacam ini tidak perlu dianggap sebagai serangan terhadap warga Simbang Kulon.
Sebuah pertunjukan publik memang membuka ruang bagi publik untuk bertanya.
Yang menjadi masalah adalah ketika pertanyaan berubah menjadi vonis.
“Visualnya menyerupai ritual satanisme” merupakan tafsir.
Sementara, “SKNC merupakan ritual satanisme” adalah sebuah klaim.
Keduanya jelas berbeda.
Klaim semacam itu membutuhkan bukti yang lebih kuat daripada sekadar sebuah potongan video.
Berdasarkan informasi yang tersedia, belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Simbang Kulon Night Carnival merupakan ritual satanis.
Jadi, dua hal harus dapat berdiri bersamaan: visualnya memang kontroversial, tetapi tuduhan satanisme belum terbukti.
Jangan Pula Menutup Mata atas Konteks
Di sisi lain, konteks bahwa SKNC merupakan bagian dari kegiatan Maulid juga tidak boleh digunakan untuk menutup perdebatan.
Sebuah acara dapat memiliki niat baik dan tetap menghasilkan pertunjukan yang dipertanyakan.
Sebuah tradisi dapat dijalankan bertahun-tahun dan tetap perlu dievaluasi ketika bentuknya berubah.
MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »











