SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
BudayaHOMEKab. Pemalang

Jejak Sunyi di Pesisir Utara: Menyingkap Misteri Tugu Lecek dan Makam Belanda di Widuri Pemalang

102
×

Jejak Sunyi di Pesisir Utara: Menyingkap Misteri Tugu Lecek dan Makam Belanda di Widuri Pemalang

Sebarkan artikel ini
Tugu Lecek dan Makam Belanda di Widuri Pemalang. (Poto: Ragil)

PEMALANG – Deburan ombak Pantai Widuri yang tak pernah berhenti seakan menjadi latar suara bagi kisah-kisah lama yang masih tersimpan di pesisir utara Kabupaten Pemalang. Di balik ramainya aktivitas wisata dan lalu lalang kendaraan di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Widuri, berdiri sebuah situs bersejarah yang kerap luput dari perhatian masyarakat.

Situs itu adalah kompleks makam peninggalan era kolonial Belanda yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Meski tampak sunyi dan sederhana, lokasi ini menyimpan jejak sejarah panjang yang menjadi saksi kehidupan masyarakat pesisir Pemalang pada masa lampau.

Daya tarik utama kompleks tersebut adalah sebuah monumen setinggi sekitar tiga meter yang dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan Tugu Lecek. Nama yang terdengar unik itu ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Menurut penuturan warga, terdapat dua versi mengenai asal-usul nama Tugu Lecek. Sebagian masyarakat meyakini nama tersebut muncul karena kondisi fisik bangunan yang mulai lapuk dan mengalami kerusakan akibat dimakan usia. Namun, ada pula versi yang dinilai lebih dekat dengan catatan sejarah.

Dalam versi kedua, kata Lecek diyakini berasal dari pelafalan masyarakat Jawa terhadap kata Belanda Leitje, yang berarti batu tulis. Istilah itu merujuk pada batu nisan atau prasasti yang menempel pada tugu dan memuat informasi mengenai tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut.

Pada salah satu bagian tugu bahkan masih terlihat angka tahun 1883 yang menjadi petunjuk usia bangunan sekaligus bukti keberadaan komunitas kolonial di kawasan Pemalang pada abad ke-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *