Pamuji (70), warga setempat, mengaku telah mengenal keberadaan Tugu Lecek sejak masa kecilnya. Menurutnya, bangunan tersebut sudah menjadi bagian dari lanskap Widuri jauh sebelum kawasan pantai berkembang menjadi destinasi wisata seperti sekarang.
“Saya sejak kecil sudah sering melewati tempat ini ketika bermain ke Widuri bersama teman-teman. Tugu Lecek sudah ada sejak dulu,” ujar Pamuji, Selasa (23/6).
Ia juga mengungkapkan bahwa kawasan Widuri pada masa lalu dikenal dengan nama Telincing. Saat itu, Tugu Lecek tidak berdiri sendirian seperti sekarang, melainkan menjadi bagian dari kompleks pemakaman Tionghoa atau yang oleh masyarakat dikenal sebagai Bong Cina.
“Dulu Widuri bernama Telincing dan Tugu Lecek itu berada di area kompleks pemakaman Cina atau Bong Cina. Sekarang makam tersebut sudah dipindahkan ke sebelah barat Desa Lawangrejo,” tuturnya.
Sejarah mencatat bahwa Tugu Leitje dibangun sebagai monumen penghormatan bagi keluarga atau tokoh penting Belanda yang pernah bermukim di wilayah Pemalang. Di sekitar tugu utama masih terdapat sejumlah makam dengan ornamen dan relief bergaya Eropa yang menunjukkan ciri khas arsitektur pemakaman kolonial.
Meski sebagian ukiran telah memudar akibat cuaca dan usia, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti, pemerhati sejarah, maupun wisatawan yang tertarik menelusuri jejak masa lalu.
Kini, Pemerintah Kabupaten Pemalang telah menetapkan kompleks makam tersebut sebagai bangunan cagar budaya guna menjaga keberadaan dan nilai historisnya. Status tersebut menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian warisan sejarah yang tersisa di kawasan pantura.















