Kebijakan baru membutuhkan proses trial and error, pengujian, evaluasi, serta penyempurnaan. Demikian pula gagasan mengenai bahan pemadam berbasis singkong maupun pembangunan sumur bor perlu diuji berdasarkan efektivitas teknis, biaya, rantai pasok, keberlanjutan, dan kondisi geografis lokasi bencana.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Dengan demikian, sebagian analisis dalam tulisan ini masih berada pada ranah proyeksi risiko dan belum dapat diposisikan sebagai temuan empiris yang telah terverifikasi. Kajian lebih lanjut tetap diperlukan, khususnya terkait kepastian rantai pasok bahan baku, efektivitas formulasi bahan pemadam, kebutuhan energi, biaya operasional, serta efektivitas sistem sumur bor dalam kondisi kebakaran yang sebenarnya.
Pada akhirnya, persoalan utama dalam tata kelola bencana bukan semata-mata apakah pemerintah memiliki banyak gagasan. Persoalannya adalah apakah gagasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi tindakan yang cepat, tepat, terukur, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Bencana tidak mengenal jenjang birokrasi. Api tidak menunggu surat keputusan. Gempa tidak menunggu rapat koordinasi.
Karena itu, semakin cepat informasi lapangan sampai kepada pengambil keputusan, semakin kecil pula jarak antara negara dan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Dalam situasi darurat, negara bukan hanya dituntut hadir melalui kebijakan. Negara dituntut hadir melalui kecepatan, ketepatan, dan keberpihakan pada keselamatan manusia.
Sumber:
Baraldi, Claudio, Corsi, Giancarlo, & Esposito, Elena. (2021). Unlocking Luhmann: A Keyword Introduction to Systems Theory. Bielefeld University Press. https://doi.org/10.14361/9783839456743
MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »











