Menyiapkan stok bahan pemadam dalam jumlah besar pada dasarnya dapat dipandang sebagai langkah antisipatif. Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif manajemen rantai pasok, peningkatan produksi dalam skala besar harus didasarkan pada perhitungan kebutuhan riil, kapasitas produksi, distribusi, penyimpanan, hingga masa simpan.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Memaksa produksi meningkat tanpa memperhitungkan konsumsi dan kebutuhan sektor lain dapat menimbulkan persoalan baru. Tepung tapioka, misalnya, juga digunakan oleh pelaku UMKM dan rumah tangga. Jika kebutuhan untuk penanganan bencana menyerap komoditas tersebut dalam jumlah sangat besar, maka perlu dihitung dampaknya terhadap pasokan dan harga di pasar.
Selain itu, persoalan penyimpanan dan masa kedaluwarsa juga harus diperhitungkan. Produksi dalam skala besar tanpa perencanaan penggunaan yang jelas berpotensi menghasilkan stok yang tidak termanfaatkan dan pada akhirnya menjadi beban anggaran.
Dengan demikian, kebijakan antisipasi karhutla perlu ditempatkan dalam kerangka manajemen risiko, bukan hanya sebagai respons terhadap asumsi bahwa kebakaran besar akan selalu terjadi dengan skala yang sama setiap tahun.
Persoalan Sumur Bor dan Logistik
Gagasan berikutnya adalah pembangunan sumur bor sebagai sumber air permanen di kawasan hutan gambut yang rawan terbakar.
Secara konseptual, penyediaan sumber air di kawasan rawan karhutla memiliki nilai strategis. Namun, keberadaan sumber air tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila tidak disertai sistem distribusi dan operasional yang memadai.
Air dari sumur bor membutuhkan pompa untuk dapat mencapai permukaan dan dialirkan ke lokasi kebakaran. Di kawasan pedalaman Kalimantan, persoalan berikutnya adalah ketersediaan energi untuk mengoperasikan pompa tersebut.
MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »











