TEGAL – Perjalanan hidup Komandan Kodim (Dandim) 0712/Tegal, Letkol Inf Rachmat Ferdiantono, menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Dari seorang remaja yang pernah tidur di masjid hingga dipercaya memimpin satuan teritorial di Kabupaten Tegal, kisahnya penuh perjuangan dan inspirasi.
Rachmat lahir dan dibesarkan di keluarga sederhana di Probolinggo, Jawa Timur. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah membantu orang tuanya berjualan gorengan di depan rumah.
“Pagi saya harus jalan kaki sekitar delapan kilometer ke sekolah. Itu saya jalani setiap hari kecuali hari libur,” kenangnya.
Semangat belajar yang tinggi mengantarkannya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Gending, Probolinggo. Setelah lulus, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berpikir realistis mengenai masa depan. Pada tahun 2000, ia mencoba mendaftar ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) karena keduanya menawarkan pendidikan gratis dan peluang kerja setelah lulus.
Di STAN, Rachmat dinyatakan lolos program D-1, namun tidak diambil karena ia mengincar program D-3. Sementara di IPDN, ia berhasil mencapai tahap Pantukhir Pusat, tetapi mengundurkan diri karena tidak mendapat izin dari orang tuanya.
“Teman-teman saya yang diterima di STAN sekarang sudah banyak yang menjadi pejabat di Kementerian Keuangan,” ujarnya.
Kesempatan lain kemudian datang. Ia diterima melalui jalur beasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UB). Rachmat memilih Universitas Brawijaya karena lokasinya di Malang lebih dekat dengan kampung halamannya sehingga biaya hidup lebih terjangkau.















