Untuk menghemat pengeluaran selama kuliah, ia bahkan nekat tinggal di Masjid Kodim 0833 Kota Malang. Kedekatannya dengan lingkungan Kodim membuatnya mengenal Dandim beserta anggotanya. Ia kemudian diizinkan tinggal di masjid sekaligus membantu sebagai marbot.
“Karena sering berbincang dengan ajudan dan sopir Dandim, kadang saya juga diminta mencuci mobil dinas Dandim,” tuturnya.
Di sela-sela kuliah, Rachmat dua kali mengikuti seleksi Akademi Militer (Akmil). Pada kesempatan pertama ia gagal di tahap Pantukhir, namun tidak menyerah. Pada percobaan kedua, ia berhasil lolos dan diterima menjadi taruna Akmil. Setelah kepastian tersebut, ia memutuskan mengundurkan diri dari Universitas Brawijaya saat masih berada di semester dua.
Ibunya sempat meragukan cita-citanya menjadi perwira TNI mengingat kondisi keluarga yang sederhana. Namun Rachmat tetap teguh pada keyakinannya.
“Saya meminta doa restu ibu untuk berjuang mewujudkan cita-cita menjadi Perwira TNI. Alhamdulillah, akhirnya saya lolos,” katanya.
Perjalanan menuju Akmil tidak selalu mudah. Dengan postur tubuh yang kurus, ia pernah dipandang sebelah mata oleh salah satu anggota Kodim di Probolinggo saat mengikuti proses seleksi. Namun pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk membuktikan kemampuannya.
“Sekarang anggota itu saya anggap keluarga. Bahkan sering menengok ibu saya di kampung. Ini menjadi pelajaran bahwa kita tidak boleh memandang rendah orang lain. Nasib seseorang hari ini dan masa depannya adalah ketentuan Tuhan. Tugas kita adalah berikhtiar dan tetap yakin,” ungkapnya.















