Selain disaring dengan aneka tumbuhan seperti metode Ratna di rumahnya, ecotech garden atau wetland treatment di Pusair disaring lagi dengan dua tahapan. Tahap pertama, air selokan diendapkan dalam clearifier lewat pipa-pipa pralon yang membuat kotorannya mengendap. Tahab kedua, air got itu disaring ketat lagi dengan cara dipompa ke menara mini satira untuk mengeluarkan racun-racunnya.
Hasilnya, air got itu sudah bersih dan tidak berbau lagi dengan derajat yang lebih baik dibanding ecotech gardennya Ratna. Sebagai contoh, ikan koi yang rentan pada air yang kotor itu pun bisa hidup di air got yang sudah disaring lewat rekayasa seperti ini. Selain itu, karyawan Pusair juga sudah biasa menggunakan air saringan got itu untuk mencuci motor mereka dan menyiram tanaman di kantor Pusair yang lumayan luas.
Jika metode rekayasa air got seperti ini bisa disebarluaskan, tentu penghematan pada kebutuhan air tanah di Indonesia bisa dikurangi. Pusair sudah memberi teladan karena mereka sudah tidak perlu lagi memakai air dari PDAM untuk menyiram tanaman atau untuk mencuci kendaraan mereka. Pasalnya, kebiasaan masayarakat selama ini saat menyiram tanaman adalah dengan air PDAM. Sungguh, suatu pemborosan air yang bisa dihindari.
Menurut Kepala Balai Lingkungan Keairan di PUSAIR Bandung, Eko Winar Irianto, Ecotech Garden merupakan upaya penting dalam upaya konservasi air tanah. Karena di luar negri, ecotech garden banyak digunakan sebagai upaya ketahanan air tanahnya. Pasalnya, ecotech garden bukan hanya bermanfaat untuk lingkungan, estetika, perikanan, atau pun ekonomi, tapi juga bisa berperan mencegah banjir. “Hal ini karena ecotech garden bisa berperan dalam meredam air limpasan yang berpotensi genangan, sehingga akhirnya menjadi run off (terserap tanah semua),” kata Eko.















