Tanaman cabai sendiri bisa dipanen pada usia 3 bulan dengan interval setiap minggu sampai cabai habis.
“Kenapa saya mengeluti bertani cabai. Menurut saya bertani cabai itu tantangannya luar biasa dan lebih menjanjikan. Disaat musim kemarau kekurangan air, disaat musim hujan kelebihan air yang mana tanah jadi sangat masam sehingga tanaman terkena penyakit. Maka dari itu saya selalu merawat tanaman cabai saya degan intensif,” jelasnya.
Mendapat julukan Srikandi Holtikultura dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia bagi Elsa adalah suatu anugerah dan motivasi untuk menambah semangat serta menambah pengalaman serta bisa terus dan eksis lagi memberikan wawasan luas kepada para petani cabai lain nya.
“Suka duka menjadi seorang petani cabai jelas ada. Kalau sukanya disaat harga cabai mahal kita bisa menabung, bisa bayar pekerja dan juga bisa untuk modal berikutnya. kalau dukanya disaat panen raya harga cabai anjlok/murah dipasaraan tentunya kita sedih dan biasanya pemerintah itu diam-diam saja disaat harga cabai murah. Tapi anehnya saat harga cabai mahal ada operasi pasar ada apalah atau mungkin yang punya import,” tambahnya.
Elsa berharap kepada pihak pemerintah untuk lebih peduli terhadap para petani cabai disaat harga cabai murah harus ada solusinya supaya para petani cabai tidak bangkrut dan tidak banyak hutang, karena petani cabai juga sama ingin sejahtera seperti profesi usaha yang lain nya.
“Pesan kami kepada para petani cabai jangan bosan untuk terus belajar dan belajar bagimana cara merawat bertanam cabai yang baik supaya bisa menghasilkan kualitas cabai yang bagus dan bisa bersaing dipasaran dengan cabai prodak luar. Adapun Untuk mengakses informasi tata cara bertanam cabai dengan benar sekarang mudah untuk mengakses informasi baik lewat media, internet atau bisa langsung belajar ke petani cabai yang sudah maju karena tidak ada istilah master didunia dalam budidaya tanaman cabai,” pungkasnya.















