MMN.co, Cianjur – Miris dan prihatin melihat lebih dekat kegiatan keseharian anak-anak SD Neglasari, Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang harus belajar daring dengan menempuh jarak puluhan kilometer dari lokasi sekolah menuju lokasi lapangan sepak bola demi mencari sinyal handphone dan internet untuk belajar.
Pantuan MMN.co, pada Senin 23 Agustus 2021, sembilan siswa SD Neglasari bersama guru kelas nya sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2021 di pinggir lapang sepak bola Desa Wanasari yang tempat tersebut ada sinyal handphone dan internet.
Seperti dikatakan Lisna (10) salah seorang siswi kelas V SDN Neglasari, ia bersama teman teman sedang mengikuti simulasi pembelajaran Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2021.
“Kenapa belajar nya mengunakan tenda dipingir lapang desa yang jarak nya jauh, karena ditempat sekolah Lisna susah dan malahan tidak ada sinyal handphone dan internet, terpaksa bikin tenda bersama Pak Guru dan bu Guru walau jarak nya lumayan jauh,” kata Lisna dengan kepolosan nya kepada wartawan, Senin (23/8/2021).
Lisna berharap, dirinya dan teman teman ingin daerah tempat sekolah nya tidak tertinggal seperti daerah yang ada dikota kota dengan mudahnya sinyal handphone dan internet karena adanya Tower Transceiver Station (BTS).
“Seperti kegiatan belajar daring saya dan teman teman pastinya harus ke lokasi lapangan sepak bola ini karena hanya disini yang ada sinyal handphone dan internet,” tukasnya.
Hal serupa diungkapkan Yati Maryani (40) salah seorang Guru, bahwa sulitnya sinyal handphone dan internet membuat kami terpaksa mendirikan tenda di lokasi pinggir lapangan sepak bola walau jarak nya lumayan jauh.
“Seperti yang bapak lihat hari ini Senin 23 Agustus 2021 kami bersama peserta didik SD Neglasari sedang melaksanakan kegiatan simulasi persiapan untuk pembelajaran Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2021 di pinggir lapangan dengan mendirikan tenda demi untuk pencapaian,” jelasnya, Senin (23/8/2021).
Masih terang Yati, sulitnya sinyal handphone dan internet diwilayah jelas sangat berdampak dan berpengaruh terutama terhadap dunia pendidikan disekolah.
“Selama masa pembelajaran daring, kami bersama anak anak didik hilir mudik mencari lokasi dimana ada sinyal, kadang diteras desa, kadang didekat lapang yang penting bisa ada sinyal,” terang Yati.
Di era informasi berbasis digital ini, semestinya jaringan internet akan semakin memudahkan aktivitas warga. Sayangnya, hal itulah yang tak didapatkan warga. Padahal kami juga kan membutuhkan informasi yang lancar.
“Terkadang suka sedih juga dan kesal kenapa didesa kami belum tersentuh adanya pemasangan Tower Base Transceiver Station (BTS) baik dari Telkomsel, Mentari dan XL juga lainya. Untuk memudahkan infomasi terutama disegi dunia pendidikan,” tuturnya.
(Jay)















