MMN.co, Cianjur – Miris perjuangan anak-anak sekolah di Kampung Cihalimun dan Cikurutug, Dayamekar, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ingin belajar daring online harus pergi ketengah hutan yang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Lebih miris nya lagi lokasi saung sinyal dekat dengan tempat pemakaman umum dan memakan waktu perjalanan kurang lebih 1 kilometer hanya untuk mencari sinyal handphone atau internet.
Infomasi yang diterima MMN.co, anak-anak yang belajar daring ditengah hutan tersebut dari berbagai siswa sekolah dasar dan ada juga yang sekolah menengah pertama (SMP) dan setiap harinya kurang lebih ada 10 orang yang ikut belajar daring.
Seperti dikatakan Azril (11) salah seorang siswa SDN Riunggunung kelas 5 mengatakan, harus bagaimana lagi pak karena di Kampung Azril tidak ada sinyal handphone dan internet jadi terpaksa pergi ke hutan sama teman teman.
“Karena Azril dan teman teman harus mengikuti belajar daring online kalau tidak nanti bisa ketinggalan pelajaran dan pak guru bisa marah nantinya,” katanya, Selasa (10/8/2021).
Masih kata Azril, karena perjalanan ke lokasi saung sinyal jauh dan memakan waktu kurang lebih 1 kilometer sehingga Azril dan teman teman harus bangun pagi pagi untuk bisa berangkat ke lokasi saung sinyal.
“Terkadang Azril dan teman teman sedih melihat kondisi di Kampung kami yang masih serba ketertinggalan, tapi bagi Azril dan kawan kawan ini tidak menjadikan suatu halangan dan tidak akan putus harapan untuk mencari ilmu pendidikan walau jauh dari kota dan serba kekurangan. Insya allah Azril ingin seperti anak anak sekolah yang ada di kota,” ucapnya.
Sementara itu Setiawan S.IP (41) kepala dusun membenarkan adanya saung sinyal atau lokasi anak anak belajar ditengah hutan. Ini bukan rekayasa benar apa adanya kondisi seperti ini tiap hari anak anak demi untuk mencari sinyal guna mengikuti belajar daring harus pergi ketengah hutan dengan memakan waktu perjalanan rata rata 500 meter sampai lokasi sinyal.
“Seperti kondisi di Kampung Dayamekar, Cihalimun dan Cikurutug, Desa Mekarsari itu jelas jelas Blank Spot tidak terlingkupi oleh sinyal komunikasi. Baik untuk komunikasi analog seperti jaringan telepon atau komunikasi digital seperti jaringan internet,” jelas kepala dusun, Selasa (10/8/2021).
Setiawan beraharap, semoga pemerintah Daerah dan Pusat bisa memperhatikan desa kami yang serba kekurangan dan ketinggalan di era yang sudah serba modern seperti sekarang ini susah mencari sinyal karena tidak adanya tower Base Transceiver Station (BTS).
“Kasihan anak anak dimasa Pandemi Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak bisa sekolah tatap muka dan harus mengikuti belajar daring online karena sinyal sulit terpaksa harus pergi ke tengah hutan yang jauh dari pemukiman warga masyarakat,” harapnya.
(Jay)
















Semangat