Namun, ia tidak merinci lebih jauh terkait pelaku yang diduga menyebarkan malware tersebut.
Sementara itu, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Bisyron Wahyudi menuturkan ada persamaan antara ransomwareWannacry dan Petya.
“Mereka itu tool-nya hampir sama, menggunakan eternalblue yang awalnya dipakai oleh US National Security Agency (NSA) atau Lembaga Keamanan Amerika Serikat. Tool-nya NSA ini bocor ke hacker dan beberapa hacker ini menggunakan tool tersebut sebagai virus,” ungkap dia.
Untuk sementara ini berdasarkan pantauan Kominfo, serangan paling banyak di Ukraina, kawasan Eropa Timur, dan Asia Selatan yang dalam hal ini India menjadi negara paling banyak korban Petya. Dia mengaku belum mendapatkan laporan terhadap serangan Petya di Indonesia. (jns/dr).















