“Pembelajarannya harus bersifat aktif dan kontekstual. Transisi bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia akan sulit dilakukan dengan cepat kalau guru hanya menggunakan metode ceramah dalam mengajar. Anak-anak dengan cara demikian akan pasif dan tidak bisa mengeluarkan semua potensinya, baik potensi pengetahuan maupun kebahasaannya. Kalau mereka gunakan metode siswa berkelompok, melakukan presentasi, melakukan percobaan dan menemukan sendiri berbagai pengetahuan, mereka akan cepat menangkap pelajaran dan juga cepat menguasai bahasa baru,” ujarnya.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Para peserta workshop yang terdiri para guru, kepala sekolah, komite dan para fasda pada akhirnya menyepakati bahwa tiga sekolah yaitu SD Kadahang, SD Wunga dan SD Kapunduk yang menjadi rintisan program akan melakukan metode tersebut mencoba menerapkannya selama satu bulan untuk diuji lebih jauh tingkat efektifitasnya.
(Red)
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.











