MetroMediaNews.co|Jakarta – Siapa tak kenal Didi Kempot, penyanyi sekaligus pencipta lagu campursari yang kini bangkit kembali dengan lagu-lagunya yang digandrungi kalangan milenial.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Didi Kempot yang kini mendapat julukan “Lord Didi” atau “The Godfather of Broken Heart” seakan mampu menghipnotis kawula muda untuk ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama lagu campursari.
Inilah fenomena “Sobat Ambyar”, sebutan yang melekat pada para lover dan penggemarnya di seantero tanah air.
Bisa dibilang, Didi Kempot tergolong musisi yang tidak hanya konsisten di jalur musik campursari, tapi juga unik secara penampilan.
Dengan memakai beskap (blangkon, selop, jarik) serta rambut gondrongnya, lagu-lagu Didi Kempot dapat diterima generasi muda zaman now. Bait-bait lagu-lagunya dalam bahasa Jawa seperti Pamer Bojo, Cidro, Suket Teki, Statiun Balapan, Pantai Klayar, Banyu Langit, menjadi hymne bersama dan karaoke massal kaum muda perkotaan di setiap aksi panggungnya.
Berkat sosial media kini lagu-lagu Didi Kempot tidak hanya mudah dinikmati, tapi juga mampu menembus batas generasi. Youtube dan video viralnya telah dilihat jutaan orang.
Di tangan Didi Kempot, genre musik campursari yang bersifat lokal dinasionalkan dan dirayakan sebagai medium ekspresi generasi milenial mulai dari kampus hingga hotel-hotel berbintang.
Campursari dan Masyarakat Jawa
Meski bukan orang pertama yang memperkenalkan campursari, namun kehadiran Didi Kempot dalam kancah musik komtemporer Indonesia mampu mengubah image campursari. Mirip dengan perjalanan musik dangdut, awalnya kesan kampungan dan kelas bawah melekat pada musik campursari. Kehadirannya tidak dianggap “pop” karena cakupan genrenya seperti halnya dangdut dan keroncong, bertentangan dengan kemodernan yang diusung oleh genre pop.
MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »











