HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
Megapolitan

Hari Musik Nasional, Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural

163
×

Hari Musik Nasional, Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural

Sebarkan artikel ini

Berbeda dengan pendahulunya seperti Manthous dan Anjar Any, lagu-lagu Didi Kempot mampu menghadirkan suasana kejiwaan dan kejadian dalam hidup keseharian seperti jatuh cinta, patah hati atau dikhianati dalam lirik bahasa Jawa sederhana dan menyentuh. Nuansa mellow dalam lagu-lagunya itulah yang kini dianggap mewakili perasaan fans yang menamakan dirinya sad boys dan sad girls atau sobat ambyar.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Nasionalisme Multikultural

Lagu-lagu Didi Kempot memang memiliki ciri khas. Hampir semua lagu Didi Kempot menggunakan bahasa Jawa ngoko. Bertema kejadian hidup sehari-hari dan mengambil setting publik seperti Tirnonadi, Statiun Balapan, Pasar Klewer, Malioboro. Selain itu mengandung ungkapan-ungkapan yang bermakna konotasi serta kisah percintaan yang berujung perpisahan atau kesedihan.

Menariknya, menurut Didi Kempot, kesedihan yang ada dalam lirik lagu-lagunya bukan untuk diratapi tapi memberi semangat untuk lebih baik. Dalam ungkapannya yang kini banyak diunggah dalam percakapan para penggemarnya di media sosial, “daripada patah hati mending dijogeti.” Itulah fenomena sobat ambyar, gambaran perasaan galau atau ambyar anak-anak muda zaman sekarang yang diungkapkan lewat lagu dan joget musik campursari.

Seperti disampaikan Jeremy Wallach, profesor di Departemen Budaya Populer Bowling Green State University, Ohio, dalam Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan & Keberagaman Aliran Lagu (2017), musik popular merupakan alat utama kreatifitas kaum muda Indonesia mengeksplorasi identitas dan posisi mereka dalam dunia dan bangsa modern. Dalam konteks sobat ambyar, penerimaan lagu-lagu etnolinguistik seperti campursari oleh generasi milenial di panggung hiburan nasional adalah cerminan sikap multukultural masyarakat Indonesia.

HUT RI ke-81 – Reward MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *