HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
Megapolitan

Hari Musik Nasional, Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural

162
×

Hari Musik Nasional, Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural

Sebarkan artikel ini

Sebagai sebuah genre, campursari merupakan aliran baru dalam musik etnis Jawa. Jika dilihat dari bahasa yang digunakan, lagu campursari dan tembang Jawa atau langgam Jawa sebenarnya memiliki kesamaan. Namun jika dilihat dari segi instrumen atau alat musik yang mengiringinya, lagu campursari mempunyai perbedaan dari lagu-lagu Jawa lainnya.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Dalam bahasa Jawa arti kata campursari sendiri berarti campuran, atau menggabungkan alat musik gamelan yang dikombinasi dengan instrumen musik Barat seperti keyboard. Namun dalam nada-nadanya tetap mengikuti pakem musik langgam Jawa dan gending. Dalam masyarakat Jawa, campursari dinyanyikan pada acara hajatan pernikahan, sunatan, kelahiran dan kadang ulang tahun.

Campursari juga acap kali dinyanyikan di tengah pertunjukkan wayang kulit dalam “goro-goro” sebagai hiburan. Perpaduan keyboard dan karawitan yang dimainkan menghasilkan gaya hibrida aransemen lagu-lagu Jawa yang jenaka, “ugal-ugalan”, kadang juga “saru”. Disinilah kecerdasan seorang dalang dalam melihat peluang pasar yang memadukan unsur kemodernan dengan budaya lokal.

Didi Kempot sendiri merupakan salah satu musisi yang sudah malang melintang dalam dunia musik campursari. Bermula sebagai pengamen jalanan di kota Solo 1984 dan di Jakarta 1986, kemunculannya di jagad hiburan sebenarnya sudah lama dan sudah menghasilkan beberapa album sejak 1989. Dalam sebuah wawancara dalam perspektif MetroTV di youtube, Didi Kempot menyebut telah menciptakan sekitar 700 lagu campursari, termasuk yang dinyanyikan oleh orang lain.

Awal kebangkitan kembali Didi Kempot, sebagaimana diceritakan seorang pegiat media sosial di Solo, mirip sebuah kecelakaan. Tidak disangka penampilannya dalam acara reuni Rumah Blogger Indonesia (RBI) di Solo, bulan Juni, dua minggu setelah Lebaran, videonya viral dan menjadi trending topik di twitter. Publikpun lantas membicarakan dan meresponnya sebagai bentuk sambutan positif atas kehadirannya yang ambyar.

HUT RI ke-81 – Reward MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *