Multikulturalisme sendiri adalah realitas dan sekaligus menjadi tantangan masa kini dan masa datang bagi Indonesia. Multikulturalisme bukan doktrin politik yang isinya programatik, juga bukan teori filosofis tentang manusia dan budayanya. Multikulturalisme adalah perspektif tentang kehidupan manusia yang menempatkan keanekaragaman budaya sebagai modal sosial dan sumber peluang kreatif bagi kemajuan sebuah bangsa.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Dalam kajian budaya, ekspresi musik menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat modern. Kemampuannya untuk menghubungkan perasaan dan membangun solidaritas bersama, dapat menjadi instrumen yang menyatukan sebuah bangsa. Maka secara afektif, dalam perspektif multikulturalisme, perasaan nasionalisme dan ke-Indonesia-an dapat didorong melalui musik.
Dalam fenomena sobat ambyar, musik campursari Didi Kempot dapat menjadi sarana penting memperkuat identitas nasional Indonesia. Penerimaan penggemarnya yang lintas budaya dan lintas generasi, dapat menjadi identitas baru yang menyatukan. Dorongan nasionalisme multikultural ini bisa menjadi counter-culture terhadap narasi ideologi yang berbasis agama, suku, ras maupun kelas, karena musik juga bisa menyatukan lintas kelas sosial.
Dalam peringatan Hari Musik Nasional 9 Maret kali ini, sebagai penutup tulisan ini, mari kita rayakan dengan menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot sambil berjoget “ambyarwati” ala Sintya Merisca. Selamat Hari Musik Nasional.
Editor: Red
Penulis: Eko Sulistyo/M Nasir
MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »











