“Melalui program ini, diharapkan WBP tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga keterampilan hidup yang bermanfaat setelah mereka selesai menjalani masa pidana,” ujar Jalu.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Lebih dari itu, lanjut Jalu, “Melalui program ini, kami berharap Warga Binaan dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Pendidikan adalah kunci utama dalam mencegah residivisme, dan dengan keterampilan yang mereka peroleh, kami yakin mereka dapat berkontribusi positif bagi masyarakat setelah mereka bebas,” terangnya.

Sementara itu, Wahyu Hendrajati Setyo Nugroho menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan lembaga pemasyarakatan untuk menciptakan program pendidikan yang inklusif, yang akan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat, termasuk bagi mereka yang sedang berada di balik jeruji besi.
“Kami terus berkomitmen untuk menghadirkan program-program yang bermakna bagi Warga Binaan. Kampus Kehidupan ini adalah wujud nyata dari upaya kami dalam memberikan pendidikan dan pelatihan yang akan meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan pendidikan yang mereka dapatkan, kami berharap mereka bisa menjadi individu yang lebih mandiri dan siap untuk menjalani kehidupan baru di luar lapas,” kata Wahyu.
Program Kampus Kehidupan ini akan diikuti sebanyak 35 mahasiswa yang akan mulai berkuliah di Program Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Tangerang, yang telah mengikuti asesmen berupa tes tertulis dan wawancara. Dengan program ini, Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang berharap dapat membina para WBP agar memiliki bekal pendidikan dan keterampilan yang lebih baik saat kembali ke masyarakat, sehingga mereka dapat berkontribusi positif dan mengurangi tingkat residivisme.(Red/dedy)
MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »











