Atas kejadian ini H.Suhana sempat shok saat menyaksikan tanaman padinya yang rusak dan mengering, hingga pingsan di areal sawahnya saat itu, ujar Tala.
“Iya, banyak yang gagal panen, bahkan ada yang sampai tanam ulang karena padinya mengering dan tidak ada butirannya sama sekali,” kata Kardi petani asal Desa Karangwangi (Kec.Binong).
Berbeda dengan pengakuan Muhidin (59 th) petani asal Desa Citrajaya (Kec.Binong), mengaku bila tanaman yang saat itu hendak dipanen kelihatan butiran padinya tidak banyak, ada sebagian yang sudah mengering. Mudah-mudahan bisa dipanen, walaupun pasti hasilnya tidak maksimal,” katanya.
Petani asal Desa Simpar (Kec.Cipunagara) Mursyidan (58 th) mengatakan hal serupa, namun tidak semua padi rusak, ada sebagian yang bisa diselamatkan. Kondisi padi mengering dan tidak tumbuh biji.
“Padi menghitam dan mengering, Alhamdullilah ada yang bisa diselamatkan, walupun hasilnya tidak maksimal, tapi bisa dipanen,” katanya.
Petani asal Pagaden Mustopa (59 th), mengalami hal tragis karena seluruh padi yang ditanam tidak bisa dipanen. Hal tersebut membuat dirinya sangat merugi.
“Saya sudah putus asa, lantaran tidak bisa panen dan sawah langsung dibajak lagi, untuk ditanami ulang,” ujarnya mengeluh.
Kerugian yang dialami Mustopa, nyaris dialami oleh para petani di wilayah Subang. Oleh kerena itu, kerusakan tanaman padi pada musim rendeng tahun ini harus menjadi peringatan terkait swasembada pangan yang merupakan program Nawacitanya pemerintah pusat.
“Harus ada penyelamatan bagi petani. Jika setiap musim panen seperti ini, program pemerintah yaitu swasembada pangan bisa gagal,” ujar Suryana tokoh tani Pantura.















