PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
BudayaDaerahKab. Pemalang

Menjaga Warisan Leluhur, Warga Pemalang Gelar Ritual Boneka Brendung Pemanggil Hujan

321
×

Menjaga Warisan Leluhur, Warga Pemalang Gelar Ritual Boneka Brendung Pemanggil Hujan

Sebarkan artikel ini
1001353335
Boneka brendung saat dipegangi warga karena meronta ronta ( Foto:Ragil )

PEMALANG – Di tengah musim kemarau panjang yang mengakibatkan krisis air bersih dan mulai mengeringnya lahan pertanian, warga Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, menggelar tradisi sakral Brendung, sebuah ritual budaya turun-temurun yang dipercaya sebagai ikhtiar batin untuk memohon turunnya hujan.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Tradisi yang masih lestari hingga kini itu digelar di Balai Desa Sarwodadi, Senin (27/7/2026), dan diikuti puluhan warga. Mereka membawa berbagai peralatan dapur sebagai alat musik pengiring ritual yang sarat dengan nilai budaya dan kebersamaan.

Dalam prosesi tersebut, sebuah boneka Brendung yang terbuat dari tempurung kelapa (cumplung) sebagai kepala dan bambu sebagai rangka tubuh diletakkan di tengah ruangan. Boneka itu dihias menyerupai sosok perempuan cantik, lengkap dengan pakaian dan rangkaian bunga kembang telon.

Ritual diawali dengan alunan musik klothekan, yakni tetabuhan ritmis menggunakan alat-alat rumah tangga seperti ember, nampan, dan boyong. Irama tersebut dipadukan dengan kidung serta lantunan mantra kejawen yang dipimpin seorang pawang.

Suasana semakin khidmat ketika boneka Brendung yang dipegang dua warga tampak bergerak dan menari mengikuti irama tetabuhan, menciptakan nuansa mistis yang menjadi ciri khas tradisi tersebut.

Ketua Paguyuban Seni Brendung Desa Sarwodadi sekaligus perangkat desa, Prakoso, mengatakan kesenian Brendung bukan sekadar pertunjukan yang bernuansa magis, melainkan warisan budaya yang mencerminkan ikhtiar spiritual masyarakat agraris dalam menghadapi musim kemarau.

“Kesenian Brendung bukan sekadar tontonan magis, melainkan bentuk ikhtiar batin masyarakat agraris kepada Sang Pencipta saat kemarau ekstrem melanda,” ujarnya.

Prakoso menjelaskan, boneka Brendung dibuat dari tempurung kelapa sebagai kepala, sementara bagian tubuhnya menggunakan rangka bambu. Boneka kemudian dirias sedemikian rupa dan dipakaikan busana sehingga menyerupai seorang perempuan cantik.

Pendaftaran Jurnalis – MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *