Menurut Afif, penggunaan bahasa daerah oleh guru kadang tidak berdasarkan penilaian yang benar terhadap kemampuan siswa itu sendiri menggunakan Bahasa Indonesia. Guru hanya berasumsi bahwa anak tidak akan mengerti konten kalau pembelajarannya disampaikan dalam Bahasa Indonesia, sehingga ia terus menerus menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa pengantar pembelajarannya.
“Padahal belum tentu demikian. Banyak anak sebenarnya karena terpapar bahasa Indonesia dari berbagai sumber lain. Mereka bisa mengerti bahasa Indonesia, walaupun mungkin kurang baik,” terangnya.
Menurut Andika, District Facilitator INOVASI Sumba Timur, sekolah yang penerapan transisi kebahasaannya belum maksimal, kemungkinan masih memiliki kesulitan menentukan metode melakukan transisi tersebut.
“Observasi dan wawancara yang kita lakukan adalah untuk mencari akar penyebab masalah ini. Nantinya kita akan bersama-sama membuat solusi yang akan kita terapkan di sekolah,” ucapnya.
Andika juga menegaskan bahwa penelitian ini bukan untuk menilai tingkat performance sekolah, tapi untuk program meningkatkan ketrampilan literasi dan numerasi siswa.
“Tingkat literasi individu sangat ditentukan saat individu tersebut berada di kelas awal. Semakin cepat mereka literate terhadap bahan bacaan dan mata pelajaran, semakin besar kesempatan mereka untuk mencerap pengetahuan dan ketrampilan semenjak dini,” tambahnya.
Penelitian dengan menggunakan metode khas PDIA (Problem Driven Iterative Action) tersebut dilakukan oleh tim INOVASI di tiga sekolah dasar di Sumba Timur. Penelitian tersebut juga mencakup penelitian terhadap cara mengajar guru, manajemen sekolah, dan berbagai hal lain yang mendukung peningkatan literasi dan numerasi anak didik.















