Menurutnya, selain nilai spiritual, kegiatan ini juga menghidupkan kembali nilai gotong royong yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan modern.
“Tradisi ini bukan sekadar mengenang yang telah tiada, tetapi juga menghidupkan nilai kebersamaan. Sejak kemarin, warga bergotong royong membersihkan area makam dari rumput liar dan ranting kering. Setelah doa bersama, kegiatan ditutup dengan kembul bujono yang penuh kehangatan,” tambahnya.
Pelaksanaan Tawasul, Yasin, dan tahlil di kompleks makam Mbah Kemis dan Mbah Kauman ini juga menjadi agenda rutin tahunan yang digelar setiap Tahun Baru Islam atau Suroan.
“Alhamdulillah, kegiatan ini kembali terlaksana yang ke-6 sejak 2020. Makam leluhur Desa Cibelok antara lain Mbah Kauman, Mbah Kemis, Mbah Panji, Mbah Dongkol, Mbah Kledung, dan Mbah Joyo Dwipo,” jelasnya.
Tradisi Suroan Jadi Ruang Spiritualitas dan Kebersamaan Warga
Kegiatan ziarah dan doa bersama ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang spiritual yang memperkuat ikatan sosial antarwarga. Momentum Suroan menjadi sarana refleksi untuk memperkuat nilai keimanan sekaligus mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
Nilai gotong royong tampak nyata dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembersihan makam hingga pelaksanaan doa bersama. Tradisi ini menjadi bukti bahwa solidaritas sosial masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi generasi muda yang turut hadir, kegiatan ini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan mereka dengan akar budaya desa. Pengenalan silsilah leluhur diyakini mampu menumbuhkan rasa cinta tanah kelahiran sekaligus memperkuat nilai religius dalam menyambut Tahun Baru Islam.















