Eksesnya para penerima bantuanpun latah (ikut-ikutan-Red) turut menyunat, sehingga dana yang direalisasikan hanya berkisar 40% hingga 50% saja.
Sebagai testimoni, ditemukan sejumlah penerima bantuan diantaranya di Desa Mandala wangi pembangunan Sarana Air Bersih (SAB) di 2 titik , masing –masing berbiaya Rp.30 Juta, pengusung kader Golkar (Aspirator-Red); Desa Batangsari Pembangunan SAB di 8 titik , masing –masing berbiaya Rp.30 Juta; Pengerasan Jaling (Paving Blok) berbiaya Rp.50 juta, Sarana Prasarana PAUD sebesar Rp.50 juta, pengusung kader Demokrat (Aspirator); Desa Sukasari pembangunan SAB di 2 titik, masing-masing berbiaya Rp.30,-juta, pengusung kader Demokrat (Aspirator), pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) beribaya Rp.50,-juta, pengusung kader PDIP (Aspirator); Desa Sukareja pembangunan SAB di 2 titik , masing-masing berbiaya Rp.30,-juta, pengusung kader Demokrat, pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SMK Al-Munawaroh, berbiaya Rp.400,-juta, pengusung kader PDIP (Aspirator); Desa Curugreja pembangunan SAB 1 titik berbiaya Rp.30,- juta, pengusung kader Demokrat (Aspirator).
Baik kegiatan fisik dan non fisik yang diusung kader partai (Aspirator), realisasi di lapangannya hanya berkisar 40% hingga 50% saja, selebihnya menguap di santap oknum Jin berwujud manusia serakah, ujar sumber geram.
Lebih ironisnya lagi dari sekian banyak penerima bantuan, beberapa diantaranya merupakan Lembaga atau kelompok bentukan dari oknum anggota Dewan yang terhormat. “ Ini yang menjadi ironi bagi kita semua. Fakta yang ada membuktikan bahwa anggota Dewan yang terhormat kita ternyata hanya mewakili sanak family, kerabat, teman bahkan ada diantaranya hanya mewakili dirinya sendiri,” ujarnya.















